Banjir Bukan Sekadar Genangan: Belajar Kepedulian Lingkungan dari Kota Dumai

Aminah Sa’adah
Oleh: Aminah Sa’adah
Banjir sebagai Masalah Bersama
Banjir merupakan persoalan lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Di Kota Dumai, Riau, banjir menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Curah hujan tinggi, kondisi drainase yang kurang optimal, serta saluran air yang tersumbat sampah dapat meningkatkan risiko terjadinya genangan.
Dampak banjir tidak hanya terlihat dari genangan di jalan dan rumah warga, tetapi juga dari terganggunya aktivitas ekonomi, sosial, dan pendidikan masyarakat. Oleh karena itu, banjir bukan sekadar persoalan air yang meluap, melainkan juga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku manusia dalam menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan.
Banjir sebagai Pembelajaran Pendidikan IPS
Persoalan banjir di Kota Dumai memiliki hubungan erat dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya dalam memahami hubungan manusia dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Melalui isu banjir, peserta didik dapat belajar bahwa perilaku manusia, seperti membuang sampah sembarangan, dapat menghambat aliran air dan memperburuk risiko genangan. Mereka juga dapat memahami bahwa manusia bergantung pada lingkungan sehingga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya.
Guru dapat menjadikan persoalan banjir sebagai sumber belajar melalui kegiatan pengamatan lingkungan, diskusi, dan identifikasi masalah di sekitar sekolah. Dengan cara ini, siswa tidak hanya memahami materi IPS secara teori, tetapi juga belajar menghubungkannya dengan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menumbuhkan Tanggung Jawab Sosial dan Gotong Royong
Penanganan banjir membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu memperhatikan pembangunan, perbaikan, dan pemeliharaan drainase. Sementara itu, masyarakat dapat berperan aktif dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong.
Dalam pembelajaran IPS, nilai tanggung jawab sosial dan gotong royong dapat ditanamkan melalui kegiatan sederhana, seperti kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, menjaga kebersihan saluran air, dan mengajak teman membuang sampah pada tempatnya.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan juga demi keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan orang lain. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh menjadi kebiasaan positif yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Penutup
Banjir di Kota Dumai menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan berkaitan erat dengan perilaku manusia dan kehidupan sosial masyarakat. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat serta kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Pendidikan IPS memiliki peran penting dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab sosial, dan semangat gotong royong sejak dini. Melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa dapat memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.
Banjir bukan sekadar genangan yang harus surut, melainkan juga pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan, membangun kepedulian sosial, dan bekerja sama demi kepentingan bersama.
Daftar Referensi
Afandi, R. (2013). Integrasi pendidikan lingkungan hidup melalui pembelajaran IPS di sekolah dasar sebagai alternatif menciptakan sekolah hijau. Pedagogia: Jurnal Pendidikan, 2(1), 98–108.
Pemerintah Kota Dumai. (2026). Banjir Menggenangi Beberapa Titik di Kota Dumai, Pemko Upayakan Aliran Drainase Berjalan Lancar. Situs resmi Pemerintah Kota Dumai.



