Kontak |  Redaksi

Home / Opini

Literasi Lingkungan Pesisir: Implementasi Konsep Dasar IPS SD dalam Menjawab Krisis Sampah dan Banjir pasang keling di Kota Dumai

Redaksi · Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:02 WIB

Literasi Lingkungan Pesisir: Implementasi Konsep Dasar IPS SD dalam Menjawab Krisis Sampah dan Banjir pasang keling di Kota Dumai

DIFFA FADILLA

NAMA :DIFFA FADILLA NIM:856545252 PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ PEKANBARU

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Konsep Dasar IPS di SD

INTISARI Kota Dumai sebagai kota pesisir dan industri menghadapi permasalahan lingkungan kekinian berupa banjir pasang keling , abrasi pantai, dan tumpukan sampah di kawasan pesisir. Permasalahan ini menunjukkan rendahnya literasi lingkungan masyarakat. Artikel ini bertujuan mengkaji penerapan konsep dasar IPS SD khususnya konsep manusia dan lingkungan dalam menjawab isu lingkungan di Dumai. Penulisan artikel menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah buku Konsep Dasar IPS Universitas Terbuka dan data lingkungan DLHK Kota Dumai. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran IPS SD tidak boleh hanya bersifat hafalan, tetapi harus kontekstual dengan mengaitkan materi dengan fenomena banjir pasang keling dan sampah pesisir di Dumai melalui proyek daur-ulang sampah, penanaman mangrove, dan penguatan kearifan lokal Melayu pesisir. Dengan demikian IPS berperan sebagai jembatan untuk membentuk karakter peduli lingkungan pada peserta didik sekolah dasar.

1.PENDAHULUAN Pendidikan IPS di Sekolah Dasar memiliki tujuan utama membentuk warga negara yang baik yang peduli terhadap lingkungan sosialnya. Namun realitas di Kota Dumai menunjukkan kepedulian lingkungan masih rendah.

Setiap musim pasang, wilayah Dumai Barat dan Dumai Timur serta kawasan Pantai Teluk Makmur mengalami banjir pasang Keling. Parit-parit tersumbat sampah plastik jajanan anak-anak. TPA Dumai juga sudah mengalami kelebihan kapasitas.

Dalam buku Konsep Dasar IPS Universitas Terbuka, dijelaskan bahwa salah satu konsep sentral IPS adalah hubungan manusia dan lingkungan. Manusia mempengaruhi lingkungan dan lingkungan yang rusak akan kembali merugikan manusia. Oleh karena itu artikel ini akan membahas bagaimana konsep IPS SD dapat menjadi solusi atas krisis lingkungan di Dumai.

2.METODE PENULISAN Artikel ini menggunakan metode studi pustaka. Sumber utama adalah Buku Materi Pokok Konsep Dasar IPS SD Universitas Terbuka. Sumber pendukung adalah berita lingkungan Kota Dumai dan publikasi DLHK. Analisis dilakukan secara deskriptif-kualitatif untuk menghubungkan konsep IPS dengan fenomena lingkungan pesisir di Dumai.

3.HASIL DAN PEMBAHASAN

Hakikat dan Karakteristik IPS dalam Konteks Lingkungan Pesisir Dumai Hakikat IPS adalah terpadu dan kontekstual. Permasalahan banjir pasang Keling di Dumai tidak bisa dijelaskan hanya dari satu sisi. Dari sisi geografi, Dumai adalah dataran rendah pesisir. Dari sisi ekonomi, aktivitas industri dan pelabuhan menghasilkan limbah. Dari sisi sosiologi, perilaku masyarakat yang membuang sampah ke parit yang bermuara ke laut memperparah keadaan.

Jika guru hanya menjelaskan banjir dari buku, siswa tidak akan paham. Tetapi jika guru membawa contoh nyata "Kenapa parit depan SDN 004 Dumai meluap saat pasang?", maka IPS menjadi bermakna.

Sejarah Perkembangan IPS dan Relevansinya dengan Isu Lingkungan IPS berkembang karena kebutuhan masyarakat untuk memahami masalah sosial. Dulu IPS fokus pada sejarah perjuangan, kini tantangannya adalah perubahan iklim dan krisis sampah. Di Indonesia yang merupakan negara maritim, IPS harus mampu menjawab masalah pesisir. Untuk Dumai yang identik dengan industri migas dan pelabuhan, sejarah perkembangan Dumai dari kampung nelayan menjadi kota industri harus diajarkan agar siswa paham perubahan lingkungannya.

Ruang Lingkup IPS: Keterkaitan Disiplin Ilmu dalam Melihat Masalah Dumai Ruang lingkup IPS mencakup 7 disiplin ilmu yang semuanya terlihat di Dumai:

  1. Geografi: Kondisi pesisir Dumai yang rawan rob dan abrasi.
  2. Ekonomi: Kegiatan ekonomi pelabuhan, dan konsep daur-ulang sampah sebagai solusi ekonomi sirkular.
  3. Sosiologi: Perilaku gotong royong membersihkan pantai yang mulai luntur.
  4. Antropologi: Kearifan lokal Melayu pesisir "Jaga Laut, Hidup Sejahtera" dan pantang larang menebang mangrove.
  5. Sejarah: Sejarah hutan mangrove Dumai yang kini berkurang.
  6. Politik: Peran pemerintah kota dan DLHK dalam kebijakan lingkungan.
  7. Psikologi Sosial: Mengapa anak SD membuang sampah sembarangan karena ikut-ikutan teman.

Konsep Dasar Sejarah Lingkungan dan Kearifan Lokal Dumai Pembelajaran sejarah di Dumai tidak hanya tentang penjajahan, tetapi juga sejarah lingkungan. Dulu Dumai terkenal dengan hutan mangrove yang lebat sebagai benteng alami dari abrasi. Kini banyak yang hilang. Akibatnya banjir pasang keling semakin sering masuk ke pemukiman. Melalui pembelajaran sejarah lingkungan ini, siswa diajak menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan alam Dumai.

Kesimpulan Krisis sampah dan banjir pasang keling di Dumai adalah cerminan kurangnya literasi lingkungan yang seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran IPS SD. IPS harus keluar dari hafalan dan masuk ke aksi nyata. Melalui pembelajaran kontekstual berbasis pesisir, proyek daur-ulang sampah, penanaman mangrove, dan penguatan kearifan lokal Melayu pesisir, IPS dapat menjadi jembatan untuk membentuk karakter peserta didik yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan Kota Dumai.

Daftar pustaka

Supriatna,N., & Sapriya.(2023).konsep Dasar IPS SD PDGK4107 Modul 1-9. Tanggerang Selatan: universitas terbuka.

Dinas Lingkungan Hidup dan kebersihan kota Dumai.(2024). laporan status lingkungan hidup Daerah (SLHD) kota Dumai tahun 2024. Dumai:DLHK.

#Artikel#Study

Berita Terkait