Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di Riau: Peran Pendidikan IPS SD dalam Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

Polsek Sungai Sembilan, Polres Dumai, bersama unsur terkait dan masyarakat melakukan upaya pemadaman dan penanggulangan karhutla pada 6 September 2026.
Kebakaran Hutan Bukan Hanya Masalah Lingkungan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian di Riau. Selain merusak hutan, kabut asap akibat karhutla juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas belajar anak-anak. Pada 6 September 2026, Polsek Sungai Sembilan dan Polres Dumai bersama pihak terkait serta masyarakat turut menangani karhutla. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan.
Masalah tersebut juga dapat dijadikan bahan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar (SD). Melalui pembelajaran ini, siswa dapat mempelajari dampak kebakaran, hubungan manusia dengan lingkungan, serta pentingnya gotong royong dan menjaga alam sejak dini.
Polsek Sungai Sembilan, Polres Dumai, bersama unsur terkait dan masyarakat melakukan upaya pemadaman dan penanggulangan karhutla pada 6 September 2026.
Dampak Karhutla terhadap Masyarakat dan Pendidikan
Dampak karhutla dapat dirasakan dalam berbagai bidang kehidupan. Selain mengganggu kesehatan dan kegiatan ekonomi masyarakat, kabut asap dapat menyebabkan masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar rumah. Anak-anak juga dapat terdampak ketika kondisi udara tidak aman untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Jika diperlukan, kegiatan belajar dapat dialihkan ke pembelajaran daring sesuai arahan pihak berwenang. Namun, tidak semua siswa memiliki akses internet dan perangkat yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat.
Menghubungkan Karhutla dengan Pembelajaran IPS di SD
Menurut saya, masalah karhutla dapat dijadikan contoh nyata dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar. Guru dapat mengajak siswa membahas penyebab kebakaran, dampaknya terhadap masyarakat, serta berbagai cara untuk mencegahnya.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar melalui buku pelajaran, tetapi juga memahami persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Pembelajaran yang dikaitkan dengan kondisi nyata diharapkan dapat membantu siswa memahami hubungan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan.
Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini
Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti merawat tanaman, menjaga kebersihan, dan tidak membakar sampah sembarangan. Kebiasaan tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak memahami pentingnya menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru dan orang tua juga memiliki peran penting dalam membentuk kepedulian tersebut. Melalui contoh nyata dan pembiasaan yang konsisten, anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Penutup
Karhutla bukan hanya persoalan hutan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan, kehidupan sosial masyarakat, dan pendidikan. Melalui pembelajaran IPS, anak-anak dapat belajar memahami hubungan manusia dengan lingkungan serta pentingnya gotong royong dalam menghadapi permasalahan bersama.
Harapannya, pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Dengan demikian, nilai-nilai menjaga alam tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
- Ciptianingrum, R., Saputri, M., Salsabila, & Rahmayani. (2026). Pembelajaran IPS berbasis lingkungan sekitar pada siswa SD. Grata: Jurnal Inovasi Pendidikan, 3(2), 270–279. https://ejournal.mejailmiah.com/index.php/grata/id/article/view/454
- Polsek Sungai Sembilan. (2026). Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sungai Sembilan, Dumai [Unggahan Instagram]. Instagram. https://www.instagram.com/reel/Dc80JdtTebf/
Penulis: Riska Afrilianti Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)




