Kontak |  Redaksi

Home / Opini

FAKTOR PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN GAMBUT

Redaksi · Minggu, 1 November 2026 | 19:14 WIB

FAKTOR PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN GAMBUT

Istimewa

Penulis : Putri Saharani

Kebakaran gambut terjadi ketika tiga hal bertemu: gambut yang sudah dikeringkan, musim kering yang panjang, dan api dari aktivitas manusia.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di gambut Sumatra dan Kalimantan berulang hampir setiap musim kering, dan angka luasannya sendiri masih diperdebatkan. Untuk 2023, KLHK mencatat sekitar 1,16 juta hektare terbakar, sedangkan analisis Greenpeace Indonesia (2024) menghitung setidaknya 2,13 juta hektare, hampir dua kali lipat. Greenpeace juga menemukan bahwa sekitar 1,3 juta hektare dari luasan itu pernah terbakar pada 2015–2022, artinya api kembali ke lahan yang sama.

Perbedaannya paling mencolok di lahan gambut. KLHK melaporkan 182.789 hektare gambut terbakar pada 2023, sedangkan Greenpeace Indonesia (2024) menghitung sekitar 599 ribu hektare di tujuh provinsi prioritas restorasi saja, dengan perkiraan emisi 553 juta ton CO2e. Angka 2024 tampak jauh lebih kecil: pada 1 Januari–30 September 2024 KLHK mencatat 283.620,51 hektare terbakar, dengan 25.193,57 hektare (8,88%) berada di lahan gambut (Antara, 2024). Namun, periodenya baru sembilan bulan, sehingga belum bisa dibandingkan langsung dengan angka setahun penuh.

Artikel ini membahas tiga kelompok penyebab karhutla gambut: faktor alam, pengelolaan lahan, dan perilaku manusia. Argumen yang diajukan di sini: ketiganya bekerja bersama, tetapi pengeringan gambut adalah syarat dasar yang membuat dua faktor lainnya berbahaya.

Mengapa Gambut Mudah Terbakar

Gambut adalah timbunan sisa tumbuhan yang belum terurai sempurna karena terendam air. Selama jenuh air, gambut bersifat seperti spons yang sulit menyala. Ketika air tanah turun, lapisan atasnya mengering dan berubah menjadi bahan bakar, dan api bisa merambat ke dalam lapisan gambut, bukan hanya di permukaan.

Kuncinya adalah kedalaman muka air tanah. Dalam studi kebakaran gambut di Kalimantan Tengah pada 2019, Hayasaka et al. (2020) menemukan bahwa kebakaran mulai aktif ketika muka air tanah turun hingga lebih dari 300 mm di bawah permukaan, dan menjadi sangat intens setelah melewati 500 mm. Mereka juga menegaskan bahwa drainase meningkatkan risiko kebakaran secara besar karena menurunkan muka air dan membuka lebih banyak gambut kering untuk terbakar.

Jadi, pertanyaan yang tepat bukan "mengapa gambut terbakar", melainkan "apa yang membuat air gambut turun". Dua jawabannya dibahas pada bagian berikut: kekeringan akibat iklim, dan pengeringan akibat manusia.

Faktor Alam: Kekeringan dan El Niño

El Niño memperpanjang musim kering dan menurunkan curah hujan, sehingga muka air gambut turun lebih jauh. Pada El Niño kuat 2015, pengaruh kepadatan kanal terhadap titik api justru paling lemah di antara tahun-tahun yang diteliti (Salmayenti et al., 2025). Penjelasan yang masuk akal, dan sejalan dengan temuan peneliti yang sama pada gambut tanpa kanal, adalah bahwa kekeringan ekstrem membuat gambut pada umumnya ikut kering, termasuk yang tidak dikanalkan.

Namun, El Niño bukan penjelasan tunggal. Hayasaka et al. (2020) mencatat bahwa kebakaran gambut besar terjadi pada 2019 ketika indeks Niño 3.4 berada pada kondisi netral (-0,04). Indeks berbasis curah hujan di wilayah benua maritim (OLR-MC) menjelaskan jumlah titik api 2019 jauh lebih baik daripada indeks El Niño: 7.384 titik api diperkirakan, dibandingkan 7.334 yang teramati, sedangkan Niño 3.4 hanya memperkirakan 2.242.

Pelajarannya: iklim menentukan seberapa kering gambut pada suatu musim, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan mengapa gambut Indonesia terbakar hampir setiap tahun, termasuk tahun tanpa El Niño.

Faktor Pengelolaan Lahan: Kanal Drainase

Kanal dibuat untuk membuang air agar gambut bisa ditanami, tetapi akibatnya muka air tanah turun sepanjang tahun, bukan hanya saat kemarau. Salmayenti et al. (2025) menguji dampaknya dengan citra satelit di gambut Sumatra dan Kalimantan selama lima tahun: gambut berkanal memiliki kepadatan titik api tahunan hingga 13 kali lebih tinggi daripada gambut tanpa kanal. Selisihnya berbeda menurut tutupan lahan.

Hasil ini mendukung temuan kajian Universitas Gadjah Mada yang dilaporkan Saturi (2015): titik api mengikuti jaringan kanal buatan, dan makin luas jaringan kanal yang membuka lahan, makin banyak titik api.

Ada dua catatan agar temuan ini tidak dibaca berlebihan. Pertama, yang dihitung adalah kepadatan titik api, bukan luas lahan terbakar. Kedua, perkebunan yang dikanalkan sangat padat justru memiliki titik api lebih sedikit daripada yang dikanalkan sedang. Penulisnya menduga hal ini terkait praktik pengelolaan atau riwayat kebakaran sebelumnya, sehingga ini bukan bukti bahwa kanal yang rapat itu aman.

Faktor Manusia: Pembakaran dan Kelalaian

Kajian UGM menilai faktor manusia lebih kuat daripada faktor alam sebagai penyebab kebakaran gambut (Saturi, 2015). Praktik yang paling sering disebut adalah membuka lahan dengan membakar. Kajian yang sama menempatkannya, bersama kanal buatan, sebagai pemicu kebakaran.

Bukti lapangan yang lebih rinci datang dari Kecamatan Kayu Agung, Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Rosianty et al. (2026) menemukan bahwa aktivitas manusia, terutama pembakaran untuk membuka lahan, adalah penyebab dominan, sedangkan faktor alam berperan kecil. Di Kelurahan Kedaton, 6 dari 14 responden (sekitar 43%) menyebut pembakaran lahan sebagai penyebab, dan 5 responden (sekitar 36%) menyebut puntung rokok yang dibuang sembarangan. Sampelnya kecil dan satu lokasi, sehingga angka ini menggambarkan pola setempat dan tidak bisa diterapkan ke seluruh Indonesia.

Mengapa pembakaran bertahan? Penelitian di atas tidak menjawabnya, tetapi dugaan yang masuk akal adalah karena membakar lebih murah dan cepat daripada membuka lahan dengan alat berat. Dugaan ini perlu diuji lewat wawancara petani sebelum dijadikan kesimpulan.

Analisis: Mana yang Paling Mendasar?

Jika ketiga faktor dibayangkan sebagai segitiga api, masing-masing memegang peran berbeda. Kanal menentukan berapa banyak bahan bakar kering yang tersedia. Iklim menentukan seberapa serentak bahan bakar itu mengering. Manusia menentukan di mana dan kapan api mulai. Dari ketiganya, hanya kanal dan perilaku manusia yang bisa diubah oleh kebijakan.

Menurut saya, pengeringan gambut adalah faktor yang paling mendasar. Alasannya ada pada bukti di atas: kebakaran besar tetap terjadi pada 2019 tanpa El Niño (Hayasaka et al., 2020), dan gambut berkanal jauh lebih rawan terbakar daripada yang tidak berkanal (Salmayenti et al., 2025).

Sebaliknya, gambut yang tetap basah relatif sulit terbakar sekalipun ada orang yang menyalakan api. Karena itu, pencegahan yang hanya mengandalkan larangan membakar dan patroli akan terus menangani gejala, sebab gambut yang kering bisa tersulut dari api sekecil puntung rokok.

Ada tiga keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, data luas kebakaran belum seragam: selisih antara KLHK dan Greenpeace Indonesia (2024) membuat klaim keberhasilan atau kegagalan sulit dinilai. Kedua, titik api bukan luas terbakar. Ketiga, studi lapangan yang saya rujuk berskala kecil. Karena itu, kesimpulan di atas adalah argumen yang didukung bukti, bukan pembuktian akhir.

DAFTAR PUSTAKA

Antara. (2024, 11 Oktober). Kebakaran hutan dan lahan terkendali pada 2024, ini kuncinya. Medcom.id. https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/nbwo1MRb-kebakaran-hutan-dan-lahan-terkendali-pada-2024-ini-kuncinya

Greenpeace Indonesia. (2024). Bagai api dalam "sekam": Data karhutla kronis 2023. https://www.greenpeace.org/indonesia/laporan/59567/karhutla-kronis/

Hayasaka, H., Usup, A., & Naito, D. (2020). New approach evaluating peatland fires in Indonesian factors. Remote Sensing, 12(12), 2055. https://doi.org/10.3390/rs12122055

Rosianty, Y., Hustati, S., & Meysari, W. (2026). Faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut di Kecamatan Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Sylva: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Kehutanan, 15(1), 84–92. https://doi.org/10.32502/sylva.v15i1.11515

Salmayenti, R., Baird, A. J., Holden, J., & Spracklen, D. V. (2025). Drainage density and land cover interact to affect fire occurrence in Indonesian peatlands. Environmental Research Letters, 20(5), 054036. https://doi.org/10.1088/1748-9326/adc755

Saturi, S. (2015, 3 November). Berikut hasil kajian UGM soal pemicu kebakaran hutan dan lahan. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2015/11/03/berikut-hasil-kajian-ugm-soal-pemicu-kebakaran-hutan-dan-lahan/

#Artikel#Study

Berita Terkait