Kontak |  Redaksi

Home / Opini

PEMBENTUKAN KARAKTER LEWAT PRAMUKA

Redaksi · Minggu, 1 November 2026 | 07:33 WIB

PEMBENTUKAN KARAKTER LEWAT PRAMUKA

Dea Aulia Syafitriss

Penulis: Dea Aulia Syafitriss

Pendahuluan

Pendidikan di sekolah dasar tidak hanya bertujuan membuat siswa pandai secara akademik, tetapi juga membentuk sikap dan kepribadian yang baik. Pada usia SD, anak berada pada masa yang sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Namun, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan lewat ceramah di dalam kelas. Anak perlu mengalami langsung nilai-nilai tersebut dalam kegiatan nyata.

Salah satu wadah yang sesuai untuk tujuan itu adalah Pramuka. Gerakan Pramuka diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, dan di jenjang pendidikan dasar kegiatan ini ditetapkan sebagai ekstrakurikuler wajib melalui Permendikbud Nomor 63 Tahun 2014. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa Pramuka dipandang penting sebagai sarana pendidikan karakter.

Dalam praktiknya, Pramuka di sekolah memiliki dua sisi. Di satu sisi, kegiatannya kaya akan nilai. Di sisi lain, pelaksanaannya menghadapi tantangan, misalnya izin orang tua dan persaingan minat dengan ekstrakurikuler lain. Artikel ini membahas bagaimana Pramuka membentuk karakter siswa dan bagaimana praktiknya dapat dianalisis, dengan mengambil gambaran dari pelaksanaan Pramuka di SDN 007.

Gagasan dan Pendapat

Menurut saya, Pramuka adalah salah satu ekstrakurikuler yang paling efektif untuk membentuk karakter karena nilai-nilainya tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan. Ada tiga alasan yang mendukung pendapat ini.

Pertama, landasan nilainya jelas. Tri Satya dan Dasa Dharma memuat nilai-nilai seperti takwa, cinta alam dan kasih sayang sesama, patriotik, disiplin, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi pedoman perilaku yang konkret bagi anggota Pramuka, bukan sekadar slogan.

Kedua, pembelajarannya berbasis pengalaman. Kegiatan seperti baris-berbaris (PBB), sandi morse, tali-temali, memasang tenda, dan persiapan kemah menuntut siswa bekerja sama, mengikuti aturan, dan menyelesaikan tugas secara bertahap. Melalui kegiatan ini, kedisiplinan dan kerja sama terbentuk lewat pengalaman, bukan hafalan.

Ketiga, adanya struktur organisasi yang melatih kepemimpinan. Gugus depan memiliki ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara, serta seksi dan bidang yang membagi tugas. Pembagian peran ini memberi siswa kesempatan belajar memimpin, bertanggung jawab, dan menghargai peran orang lain.

Meski demikian, saya berpendapat bahwa potensi tersebut baru optimal bila kegiatan Pramuka dikelola dengan baik. Tanpa pembinaan yang bermakna dan dukungan dari berbagai pihak, Pramuka berisiko hanya menjadi rutinitas mingguan.

Analisis

Pada bagian ini, gagasan di atas dikaitkan dengan data lapangan di SDN 007.

1. Kegiatan Latihan dan Nilai Karakter

Latihan Pramuka dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 14.00–17.00 WIB dengan materi PBB, morse, persiapan kemah, memasang tenda, dan tali-temali.

Jika dikaitkan dengan karakter, PBB melatih kedisiplinan dan kekompakan, morse melatih ketelitian dan kesabaran, tali-temali dan memasang tenda melatih kerja sama serta kemandirian, sedangkan persiapan kemah melatih tanggung jawab dan kesiapan. Dengan demikian, materi yang diberikan sebenarnya sudah mendukung pembentukan karakter, selama siswa diarahkan memahami nilai di balik kegiatannya.

2. Struktur Gugus Depan sebagai Ruang Belajar Kepemimpinan

Struktur dengan ketua, wakil, sekretaris, bendahara, seksi peralatan, seksi perlengkapan, dan bidang latihan memberi siswa pengalaman berorganisasi sejak dini. Namun, manfaatnya akan lebih besar bila peran-peran tersebut dijalankan siswa secara aktif dan dirotasi, sehingga lebih banyak siswa yang merasakan tanggung jawab kepemimpinan.

3. Tantangan: Izin Orang Tua dan Minat Siswa

Salah satu hambatan yang ditemukan adalah izin orang tua serta persaingan dengan ekstrakurikuler lain seperti silat dan tahfiz. Hal ini menunjukkan bahwa Pramuka perlu menunjukkan nilai tambahnya kepada orang tua dan siswa, misalnya dengan mengomunikasikan manfaat karakter dari kegiatan ini dan membuat kegiatan latihan lebih menarik.

4. Penilaian Berdasarkan Keaktifan dan Absensi

Penilaian yang bertumpu pada kehadiran memang mudah dilakukan dan mendorong keteraturan. Akan tetapi, absensi belum tentu menggambarkan perkembangan karakter. Siswa yang hadir belum tentu menunjukkan sikap disiplin atau tanggung jawab yang meningkat.

Karena itu, penilaian akan lebih bermakna jika dilengkapi observasi sikap, catatan perkembangan, atau refleksi siswa.

Secara keseluruhan, analisis ini menunjukkan bahwa Pramuka di SDN 007 telah memiliki fondasi yang baik, yaitu jadwal rutin, materi yang beragam, dan struktur organisasi yang jelas. Tantangannya terletak pada upaya menjaga minat siswa, membangun dukungan orang tua, dan memastikan penilaian benar-benar mencerminkan pembentukan karakter.

Kesimpulan

Pramuka memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar karena memadukan nilai moral, pengalaman langsung, dan latihan kepemimpinan dalam satu kegiatan.

Pengalaman di SDN 007 menunjukkan bahwa materi dan struktur kegiatan sudah mendukung tujuan tersebut, tetapi masih menghadapi tantangan berupa izin orang tua, persaingan dengan ekstrakurikuler lain, dan penilaian yang terbatas pada keaktifan.

Oleh karena itu, diperlukan kegiatan yang lebih menarik, komunikasi yang baik dengan orang tua, serta penilaian yang menekankan perkembangan sikap. Dengan upaya tersebut, Pramuka dapat berjalan lebih optimal sebagai sarana pembentukan karakter siswa.

Daftar Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

#Artikel#Study

Berita Terkait